Jumat, 13 Maret 2020


Festival Mutiara "FOOD and FASHION" (Ternyata Sampah Punya Manfaat)


MERAIH TAKDIR BUKAN MIMPI (DALAM MINIATUR AUTOBIOGRAFI-I)



Berasal dari keluarga sederhana, yang terlahir pada hari Kamis tanggal sembilan Agustus 1970 di Kota Ambon tepatnya di Batumerah dan diberi nama Farida Galela yang biasanya disapa dengan sebutan kesayangan keluarga ‘idha’ adalah anak dari seorang ayah Ibrahim Galela Bin Muhammad Naylu Galela berasal dari Halmahera dan ibu Halimah Ternate (Ngofangare) Binti Abdul Majid Ngofangare, so pasti kedua orangtua saya berasal dari Maluku Utara namun sebelum ke Namlea orang tua dari ibu dan ayah saya yaitu kakek nenekku sempat tinggal dan menetap di kota kecil Sanana Kepulauan Sula sekarang di Maluku Utara dan sejak itu kami menggunakan bahasa ibu atau bahasa daerah Sula. Saya adalah anak ketiga dari sembilan bersaudara yakni tujuh perempuan dan dua lelaki. Anak perempuan keempat sudah almarhummah sejak usia kurang lebih tiga tahun sedang seorang lagi anak lelaki yakni anak ke tujuh meninggal dunia dalam usia menjelang tujuh bulan dari kandungan ibu. Papa (sapaan sayang untuk ayah) saya adalah seorang anggota POLRI yang sangat peduli pada sesama, jujur, tegas, disiplin, dan patriot sejati sampai akhir pengabdiannya adalah seorang pahlawan tanpa nama yang diabadikan dan dimakamkan dengan upacara kebesaran di Taman Makam Pahlawan di Pulau Buru tepatnya di Desa Ubung tempat kelahirannya. Keluarga besar kami tinggal dan menetap di Namlea Pulau Buru Provinsi Maluku. Ayah, ibu, kakek, nenek, dan basodara (baca saudara-saudara) dari kedua orangtua saya semuanya menetap dan bekerja di Pulau Buru. Mama (sapaan sayang utk ibu), beliau selain sebagai seorang ibu rumah tangga yang tangguh, baik, penyayang, tulus, dan sabar… ibu juga seorang Guru adalah pejuang dan pengabdi yang sangat luar biasa dan pekerja keras.
Saya dibesarkan di tengah-tengah keluarga besar. Pada usia kurang lebih lima bulan diasuh dan dirawat oleh kakak kandung tertua ibu (mama tua/ea atau tante/bu de’) Hafsa Ngofangare bersama suaminya (Aba saya) Ye Husein Assagaf. Saya dibesarkan dengan penuh rasa kasih sayang dan cinta, hidup bersama dengan anak-anak tiri ibu angkat saya dan mereka sangat gembira berebutan untuk bermain dan menjaga saya di saat tante dan aba sedang sibuk karena saya adalah anak (adik bagi mereka) yang terkecil dan menggemaskan. Saya disayangi oleh orangtua angkat dan basodara angkat dengan tulus ikhlas, mereka tak mau membiarkan ada tangisan sedih dariku. Hanya saja kasih sayang ini terbagi bisa dikatakan setengah untuk ayah dan ibu kandung dan setengahnya lagi diberikan untuk orangtua angkat saya… ini sempat membuatku bingung dan sangat sedih sebenarnya kepada siapa aku harus gantungkan harapan dan dari siapa kasih sayang sepenuhnya saya harus berikan dan dapatkan? Namun semua ini pasti ada hikmahnya saya menjadi seorang anak yang sangat bersyukur memiliki dua ayah dan dua ibu dan berusaha untuk menyayangi kedua belah pihak dengan kasih sayang yang penuh tanpa pernah mengharapkan sebanyak apa kasih sayang yang mereka berikan kepada saya… saya semakin bijaksana, mandiri, dan berusaha mengerti dan memahami orang lain tanpa menunggu mereka harus mengerti atau memahami diriku. Saya tak pernah mempunyai mimpi mau jadi apa dan bagaimana nantinya, aku hanya bisa berusaha menjadi yang terbaik dan memberi yang terbaik untuk kedua pihak orangtuaku yang begitu luar biasa dengan ketulusannya mereka merawat, membesarkan, mendidik, dan telah memberikan yang terbaik bagiku juga telah banyak memenuhi keinginan-keinginan manja kecilku jika dibandingkan dengan anak-anak semasaku mungkin saya adalah salah satu anak yang paling bahagia di antara teman-teman sebayaku saat itu… semua kebutuhan kecilku terpenuhi… aku bahagia!
Sekolah Dasar Negeri 1 Namlea adalah lembaga formal pendidikan dasar di mana saya disekolahkan, SD Negeri 1 di bawah kepemimpinan Bapak Jonias Soselissa (Kepala Sekolah), beliau adalah figur yang patut dicontohi oleh siapapun karena semangatnya, disiplinnya, kejujurannya, ketegasannya, dan kelembutannya sebagai pemimpin yang memiliki tiga prinsip kepemimpinan yakni; ing ngarso suntolodo, I madya mangun karso, tut wuri handayani… beliau juga dikenal sebagai seorang motivator dan inovator dan sangat peduli pada siswa yang berprestasi. Sampai sekarang masih tersimpan dalam ingatanku tentang jempolnya yang sering beliau berikan pada saya yang merupakan kebanggaan beliau. Selain lulus ujian dengan peringkat kedua se-Kecamatan Buru Utara Timur saya juga pernah berhasil meraih juara 1 lomba cerdas-cermat antar SD se-kecamatan Buru Utara Timur dan juara 3 lomba baca puisi tingkat SD, dan lomba-lomba lainnya seperti lomba vokal grup antar SD, paduan suara, tarian tradisional, seni drama, pop singer, qasidah grup, gerak jalan indah, berenang, speedmars, dan kegiatan lainnya yang dapat menunjang prestasi belajar dan pengembangan minat/bakat siswa pada sekolah dasar yang ada pada saat itu (terima kasih Guruku di SD, doa tulusku selalu untukmu, aamiin…). SD tempat saya sekolah ini juga lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal saya di Kompleks Asrama Polisi Namlea. Di antara rumah dan sekolah ada lapangan besar yang sering digunakan untuk upacara, olahraga terutama bola kaki dan kegiatan-kegiatan lainnya, kami siswa SD Negeri 1 Namlea seringkali melaksanakan olahraga di lapangan tersebut pada jam olahraga atau pada saat istirahat… dan di lapangan itu pula kami sering kejar-kejaran menangkap belalang betapa senangnya bila sudah berkumpul dengan teman-teman di saat istirahat dan ketika pulang sekolah. Guru Kelas yang sering bersama dan selalu mendampingi kami adalah ibu Lewerisa dan ibu Lekahena beliau juga adalah guru keterampilan saya yang sangat luar biasa; kami bisa strimin, mengayam, menyulam, membuat bunga, memasak, dan masih banyak lagi adalah ilmu yang beliau ajarkan kepada kami siswa SD Negeri 1 Namlea. Selain itu beliau juga yang telah mengajarkan kami tentang nada dan lagu (not angka, not balok, vokal, bagaimana memainkan alat musik, dan sebagainya). Ada juga seorang guru laki-laki yang sangat berkesan dan luar biasa adalah Pak guru Matematika Bapak Max Lawalata, saya bisa menjelajah sampai memasuki rumus-rumus matematika yang sangat sulit dan menyenangkan adalah dari beliau Pak guru yang super hebat! Dengan ciri khas gondrongnya dan panjang kukunya seperti ular namun sangat cerdas dan lihai dalam memainkan alat musik guitar. Beliau sangat bangga dan senang sekali jika saya bisa memecahkan rumus-rumusnya atau dapat menyelesaikan soal sesulit apapun dalam waktu yang sesingkat-singkatnya di saat teman-teman lagi kesulitan dalam suasana yang menegangkan… tapi beliau tidak kehilangan cara bagaimana bisa membuat teman-teman senang dengan pelajaran matematika yang mengucurkan keringat sebesar biji jagung itu… yaitu dengan cara saya dipersilahkan menyanyi untuk menghibur teman-teman agar tidak tegang dan dapat menyelesaikan soal matematika sebelum jam istirahat atau jam pulang sekolah. Masih banyak cerita indah yang butuh waktu panjang untuk berbagi dengan teman-teman sebagai pengalaman kecilku di SD Negeri 1 Namlea.
Pada tahun 1984 menamatkan studi di SD Negeri 1 Namlea dengan nilai dan prestasi yang sangat memuaskan dan dalam tahun yang sama pula saya mendaftarkan diri di sekolah menengah pertama SMP Negeri 1 Namlea yang lokasinya tidak jauh dari SD Negeri 1 Namlea. Masa-masa SMP adalah masa remaja masa mencari identitas diri, saatnya mengukir prestasi dan awal dari sebuah kompetisi. Juara kelas adalah kemenangan pertamaku, ditekuni dan diraih sampai dapat mengalahkan teman-teman lain terutama teman laki-laki yang jeniusnya luar biasa. Kemenangan yang tak pernah terbayangkan, peringkat ke-2 hanya diperoleh satu kali pada semester 1 kelas 1 dan selanjutnya pada semester 2 kelas 1 sampai tamat SMP selalu berada pada peringkat pertama dan sampai pada peringkat pertama nilai ijazah tertinggi se-Kecamatan Buru Utara Timur dengan nilai NEM tertinggi ke-2, tertinggi pertama diraih oleh teman laki-laki anak dari kepala Pertamina Namlea Tri Hartanto namanya (tak tahu di mana dia, semoga masih sehat, bahagia, dan sukses selalu menyertai sahabat-sahabatku… Aamiin). Selain tekun belajar saya juga mempunyai kesibukan lain yakni masuk dalam kepengurusan OSIS sebagai ketua bidang Kepribadian dan Budi Pekerti, selalu menjadi yang terbaik dan contoh buat teman-teman serta menjadi kebanggaan orangtua. Di samping itu juga pernah diberikan kesempatan untuk mengikuti lomba menulis surat kepada anak-anak gelandangan dalam rangka HUT ibu Tien Suharto dan alhamdulillah masuk 10 besar seluruh Indonesia. Dan mulai saat itu saya termotivasi untuk memulai menulis, awalnya dengan cara mengutip pidato-pidatonya Pak Amin Rais. Pidato yang sangat tegas dan berprinsip mendorong saya untuk dapat melakukan hal yang sama untuk berbicara seperti Amin Rais dan tokoh-tokoh besar lain seperti di antaranya adalah Ir. Soekarno Presiden pertama RI. Kemudian saya mencoba memberanikan diri untuk mengikuti lomba pidato antar siswa sekolah menengah (SMP/SMA) se-Kecamatan Buru Utara Timur dalam rangka HUT Golkar (tidak sempat ingat yang ke berapa) di Gedung Seni Graha Namlea dan mendapatkan Juara pertama yang diumumkan di Gedung Bioskop Namlea, kebetulan ayah saya hadir dan menerima penghargaan dari Pimpinan Daerah Golkar Kab. Maluku Tengah. Perasaan terharu dan senang sekali bisa membuat orangtua saya tersenyum bangga! Prestasi yang tak terputus dan berkelanjutan pada kegiatan lomba cerdas-cermat dalam acara yang sama HUT Golkar dengan materi lebih pada pengetahuan umum tentang Golkar dan berhasil meraih juara satu.@. Kegiatan-kegiatan di SMP dilalui dengan ketekunan, rasa tanggungjawab, kebersamaan dan sangat memuaskan… terus berpacu dan tetap berpacu dalam prestasi! Sampai tidak ada waktu untuk memikirkan yang lain, bagaimana dahsyatnya remaja dalam menjalani masa-masa transisi masanya pubertas saat mencari dan menemukan jati diri… bravo teman-teman! SMP Negeri 1 Namlea di bawah kepemimpinan Bapak Kepala Sekolah Drs. Matias Luhukay dengan jebolan terbaiknya telah menyebar dan menebar sukses hampir ada di seluruh Nusantara… salam sukses untuk semua!
Mengayunkan langkah berikutnya menuju Sekolah Menengah Atas (SMA Negeri 1 Namlea) yang lokasinya agak jauh dari kota yakni kurang lebih dua kilometer jarak tempuhnya, dengan nuansa asrinya yang dikelilingi pohon cemara dan pohon jambu mente di atas bukit di jalan menuju kampung Jikubesar… terlihat anak SMA jalan berbaris berbondong-bondong menuju sekolah yang menjanjikan masa depan itu. Mencoba menata diri untuk menghadapi kompetisi baru di Sekolah Menengah Atas… dengan menyandang peringkat tertinggi dari SMP favorit di daerah kami, maka dianggap sebagai siswa pilihan dan ditempatkan di Jurusan Fisika/A1 padahal keinginan ini pada jurusan Biologi/A2 karena pernah bercita-cita menjadi seorang insinyur pertanian yang merindukan tinggal di desa dengan suasana sejuk, hijau, adanya kicauan burung, suara desir angin dan air yang mengalir dari bebukitan dan pegunungan yang di bawahnya mengalir sungai-sungai… namun mimpi indah ini belum tersampaikan. Walaupun saya sangat suka dengan ilmu hitung dan memecahkan rumus-rumus, tetapi lebih memilih Biologi yang terkait dengan kehidupan nyata. Dalam menghadapi dilematis antara memenuhi keinginan dan pilihan yang telah ditetapkan, di saat itu pula ada pemantapan hati untuk mengambil keputusan dan yakin bahwa ini adalah sebuah takdir bukan mimpi untuk mewujudkan satu keinginan… kujalani semua ketetapan ini dengan penuh semangat dan yakin bahwa di balik semua ini ada hikmah dan semuanya akan indah pada waktunya. Hari-hari pertama di SMA-ku adalah hari-hari yang membutuhkan ketenangan dalam menjalani ketetapan atau bisa dikatakan saat itu adalah sebuah keajaiban yang sulit dilogikakan… terima kasih Tuhan Ilahi Rabbi, disinilah kutemukan teman-teman yang baik dan kecerdasannya luar biasa dan memacu adrenalinku untuk tetap bertahan dan siap untuk berkompetisi! Kemudian dalam pergantian waktu prestasi mulai terlihat setelah bergabung dalam kepengurusan OSIS sebagai Ketua Bidang Rohis (Kerohanian Islam), dan mulailah dengan membangun kerjasama baik antar pengurus di lingkungan sekolah maupun dengan pengurus OSIS di sekolah lain, antara lain adanya kerjasama dengan SMA Negeri 2 dan MAN Namlea yang kegiatannya masih berkisar pada pengajian (kultum) yang berpusat di gedung Islamic Center Namlea dan bersama membangun kerjasama dengan organisasi pemuda dan Remaja Masjid di Kota Namlea. Kegiatannya antara lain adalah memperingati hari-hari besar agama, pengajian, diskusi, pesantren kilat, dan kegiatan pembinaan dan pelatihan bidang seni dan olahraga. Dalam berbagai lomba Remaja Mesjid Namlea mampu meraih juara bahkan beberapa kali memperoleh juara 1. Dalam menjalani aktivitas positif ini yang bertujuan antara lain adalah meningkatkan iman dan taqwa, memperbaiki akhlakul kharimah, dan memotivasi para siswa SMA dan Pemuda di Namlea dalam mengembangkan minat dan bakatnya ini banyak dihadapkan pada tantangan baik internal antara kita maupun eksternal lingkungan masyarakat juga pemerintah, namun demikian kami dapat menyelesaikan dengan baik dan dapat diterima oleh semua pihak. Sebanyak apapun kegiatan yang kami lakukan yang merupakan bagian dari tanggung jawab kami namun tetap harus fokus untuk meningkatkan prestasi belajar di Sekolah. Terdorong oleh kompetisi yang sangat menantang ini juara kelas harus dipertahankan! Prestasi yang dicapai pun berkisar antara juara dua, tiga, dan empat… namun di balik prestasi yang sulit dicapai ini masih di kelas 1 saya ditunjuk untuk mengikuti lomba cerdas-cermat P-4 tingkat usia 15 tahun ke atas dan berhasil keluar sebagai juara 1 tingkat kecamatan, kemudian dilanjutkan ke tingkat Kabupaten dan memperoleh juara 2 dengan selisih nilai 50. Betapa bangganya pemerintah daerah saat itu Pak Camat Usman Rada adalah inspirator kami yang sangat peduli pada pembangunan SDM dan pengembangan kecamatan dalam berbagai bidang. Kami diberi penghargaan berupa tropi/piala, vandel, sertifikat, dan uang pembinaan. Yang sangat berkesan saat itu di tingkat Kabupaten Maluku Tengah adalah soal/pertanyaan yang disampaikan oleh Bapak Bupati Maluku Tengah Abdul Gani Polanunu terkait dengan tiga prinsip kepemimpinan Nasional dan saya bisa menjawab dengan sangat memuaskan kebetulan sebagai juru bicara di antara dua teman lainnya yaitu Rudi Leifon (sekarang berprofesi sebagai dokter di RSUD Namlea) dan Liem Quan (belum dapat informasi tentangnya di mana dia sekarang). Kegiatan lain yang sempat saya ikuti juga adalah lomba cerdas-cermat isi kandungan Al-Qur’an tingkat SMA dan memperoleh juara kedua setelah MAN Namlea pada urutan pertama (kelas 2) dan lomba pidato dalam rangka HUT Sumpah Pemuda dan keluar sebagai juara 1 Putri. Di bidang olahraga antara lain adalah Tennis Meja, Badminton/bulutangkis, Bola Volly, dan Basket sering dilakukan pada saat istirahat atau di luar jam pelajaran (pada sore hari). Kemudian di kelas 3 menjelang persiapan Ujian Nasional dipilih dan berkesempatan mengikuti seleksi Olympiade Matematika antar SMA se-Provinsi Maluku di Kota Ambon dan berhasil masuk dalam kategori sepuluh besar dikalahkan oleh SMA Negeri 1 dan 2 Ambon dan SMA Khatolik Ambon (sekolah favorit sampai sekarang), walaupun masuk sepuluh besar urutan ke-8 ini sesuatu prestasi yang luar biasa… sangat membanggakan semua pihak terutama Kepala Sekolah Bapak Drs. AbdurRahman Tukuboya… karena saking bangganya beliau saya dipersilahkan berdiri di depan teman-teman setelah usai upacara Bendera pada Senin pagi tahun 1990, dan sempat terngiang di telingaku tentang satu kalimat pendeknya ”Hati-hati dengan orang pendek, biar pendek tapi akalnya panjang… bisa memecahkan rumus dari enam soal dalam waktu enam jam pada 10 halaman kertas double folio dari pagi jam 09.00-15.00 wit” (kebetulan beliau juga berpostur tubuh pendek… he he he!... Pak Guru maafkan kami dan terima kasih atas segala jasanya. Doa tulus kami menyertaimu semoga bahagia di Surga-Nya! Aamiin…). Kami bertekad untuk selalu menjadi yang terbaik dan bermanfaat bagi orang lain dan alam ini.
Segera dilanjutkan Meraih Takdir Bukan Mimpi Jilid II dan Jilid III ;
-          Masuk Perguruan Tinggi Negeri
-          Hijrah dan Merantau
-          Kuliah sambil Kerja
-          Dua Bulan di Pesantren Hidayatullah
-          Aktif  Berorganisasi
-          Menikah, antara Tantangan dan Harapan
-          Perjuangan Hidup di Dusun Kecil
-          Mencoba Berwiraswasta
-          Pegawai Negeri Sipil bukan impian
-          Memorium Pengawas di Fakfak